Manusia, Sempurna atau Tidak
Banyak wacana yang menerangkan manusia sebagai sebuah makhluk yang sempurna. Namun ada banyak juga wacana menerangkan bahwa tiada manusia yang sempurna dalam beberapa kasus. Hal ini tentu saja sangat menarik untuk dibahas, mengingat bagaimana sebenarnya eksistensi manusia ini sebenarnya. Menariknya sebuah makhluk yang dinamakan manusia, beserta keunikan-keunikannya.
Manusia sebagai salah satu makhluk di bumi ini tentu tak banyak berbeda dengan berbagai makhluk yang ada. Memiliki fisik dan juga bernyawa serta memiliki hasrat untuk tetap bertahan hidup. Namun sebagai manusia sering kali kita menganggap bahwa manusia memiliki derajat yang lebih dengan makhluk-makhluk yang lain. Padahal hal itu hanya menurut penilaian manusia itu sendiri. Dengan demikian apakah hal itu dapat dibenarkan, ataukan memang seharusnya begitu.
Manusia menganggap dirinya sempurna karena memiliki banyak kelebihan dibanding dengan makhluk lainnya yang hidup di muka bumi. Ditambah dengan berbagai wahyu “Tuhan” yang mengatakan manusia adalah wakil-Nya di bumi serta merupakan pemimpin untuk makhluk yang berada di muka bumi. Bahkan menurut seorang penulis literatur sufi dan penerus tradisi Maulawi Jalaludin Rumi bahwa sifat manusia sempurna adalah refleksi dari sifat-sifat Tuhan.
Berbicara diluar konteks ketuhanan, manusia menerangkan bahwa dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh makhluk lain serta menganggap hal itu merupakan pembeda manusia dan makhluk lainnya. Yaitu sebuah akal dan kesadaran, sesuatu yang tidak nyata namun dapat dibuktikan. Dalam hal ini manusia menganggap lebih unggul di banding dengan makhluk yang lainnya. Misalnya, dengan memilki akal dan kesadaran manusia dapat menciptakan suatu kebudayaan yang mencerminkan bagaimana bentuk kehidupannya. Tidak seperti makhluk lainnya yang hanya sekedar hidup, hanya untuk bartahan hidup dan tidak tahu untuk apa mereka ada. Manusia yang memiliki kelebihan tentu akan menerangkan bahwa dirinya lebih sempurna dibanding dengan yang lain. Manusia tidaklah berlebihan dengan pernyataan itu. Karena dapat dilihat bagaimana kemajuan kebudayaan manusia pada saat ini. Berbagai kekurangan manusia dapat ditutupi dengan berbagai bentuk hasil karya yang dapat mereka ciptakan dengan akal dan pikirannya. Hal itu tentu sangat berbeda dengan makhluk yang lainnya. Yang hanya bisa sekedarnya tentang kehidupannya.
Sebuah pertanyaan, apakah hal ini benar? Atau sebenarnya hanya sebuah hal yang di lebih-lebihkan agar sesuatu dapat dibuat menurut imajinasi manusia itu sendiri.
Disamping semua kelebihan tersebut, ternyata banyak hal-hal yang merupakan kelemahan manusia itu sendiri. Sebuah bentuk dari sifat-sifat yang sama sekali tidak menunjukkan sebuah bentuk dari sebuah kesempurnaan. Bahkan terkadang manusia itu sendiri mengatakan bahwa dirinya tidak ada yang sempurna. Sebuah pertanyaan yang menarik, bagaimana seorang manusia yang menyatakan dirinya sebagai makhluk yang sempurna tapi disisi lain mereka menyebut dirinya sendiri tidak ada yang sempurna.
Memang saat menyebut dirinya tidak sempurna, mereka tidak membandingkan dirinya dengan makhluk lainnya. Tetapi mereka membandingkan dirinya dengan sesamanya. Namun kenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa manusia merasa tidak sempurna terhadap sesama. Apakah malah sebenarnya manusia itu memang tidak sempurna? Kalau memang begitu sebenarnya sangat tidak pantas kita mengatakan diri kita makhluk yang unggul. Banyak hal yang menunjukkan sebuah kebohongan yang secara tidak langsung mencerminkan betapa “cacatnya” manusia itu sendiri. Cacat dalam berbagai sisinya, dan berbagai hal dalam diri manusia.
Beberapa kelakuan manusia bahkan lebih mirip di katakan sebagai sebuah kelakuan hewan daripada menunjukan bahwa hal tersebut sebagai perbuatan manusia. Sering kali kita tak sadar akan hal itu, bisa jadi bahwa sebuah pengertian tentang manusia sebagai makhluk yang sempurna itu sebenarnya hanya sebuah kebohongan. Sebuah bentuk imajinasi manusia itu sendiri. Atau memang tidak ada pembanding untuk manusia sebagai makhluk yang sempurna. Karena jika dibanding sesama manusia saja mereka sudah tidak sempurna sama sekali, banyak sekali hal yang mencerminkan “kecacatan” diri mereka sendiri.
Selanjutnya, bagaimana sebenarnya manusia? Bagaimana kita agar disebut sebagai manusia? Menurut saya, disinilah keunikan manusia. Sebagai sebuah makhluk yang sebenarnya tidak sempurna sama sekali, tapi di dalam diri manusia terdapat suatu potensi yang dapat membuat diri mereka menjadi makhluk yang sempurna. Hal ini tergantung bagaimana manusia menggunakan potensi tersebut, yaitu akal dan kesadaran. Suatu kelebihan yang dapat mengantarkan kepada sebuah kesempurnaan manusia tetapi juga dapat menjadi sebuah potensi kecacatan manusia itu sendiri.
Sesuatu keunikan memang, bagaimana rumitnya manusia itu. Sebuah bentuk makhluk yang dapat mempelajari bagaimana dirinya sendiri. Misteri yang ada dalam dirinya yang sulit terungkap atau malah tak akan pernah terungkap karena memang begitulah seharusnya. Hal itu memang tak bisa disalahkan mengingat misteri manusia jika tereungkap akan malah merusak hakikat manusia itu sendiri.