Selasa, 12 Juli 2016

Minggu, 04 Januari 2015

Indera Manusia

Indera manusia
            Sebelumnya mungkin telah dipelajari manusia memiliki lima indera, yang berhubungan dengan lima organ inderawi: Pengelihatan (mata), pendengaran (telinga), pengecapan (lidah), Perabaan (kulit), dan pembauan (hidung). Sebenarnya, ada lebih banyak dari sekedar lima indera, meskipun para ilmuwan tidak sepakat mengenai angka pastinya. Kulit, yang merupakan organ sentuhan atau tekanan, juga dapat merasakan panas, dingin, dan rasa sakit, belum lagi rasa geli dan gatal. Telinga yang merupakan organ pendengaran, juga memiliki reseptor yang membentuk indera keseimbangan. Otot-otot juga memiliki reseptor yang bertanggung jawab untuk sensasi gerakan tubuh.

            Semua indera kita berkembang untuk membantu kita bertahan hidup. Bahkan rasa sakit, yang menyebabkan banyak penderitaan manusia, adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari warisan evolisi kita, karena rasa sakit dapat memperingkatkan kita akan penyakit dan cedera. Orang yang lahir dengan kondisi cacat indera yang membuat mereka tidak mampu merasakan sakit dan luka akan sangat rentan terhadap luka bakar, memar dan patah tulang, dan sering kali mereka meninggal dalam usia muda karena mereka tidak dapat mengambil keuntungan dari sinyal peringatan rasa sakit. Pengalaman sensorik memberikan sumbangan yang tak terhitung jumlahnya pada kualitas hidup kita, bahkan ketika pengalaman tersebut tidak secara langsung membantu kita untuk tetap hidup. Pengalaman tersebut menghibur, memukau, menenangkan dan memberi kita inspirasi.

Sensasi dan Persepsi

Sensasi dan Persepsi
Dalam review ini akan menjelaskan bagaimana indera kita  menerima informasi dari lingkungan dan bagaimana otak kita menggunakan informasi tersebut untuk membangun model dari dunia yang kita tinggali. Kita akan memusatkan perhatian pada dua rangkaian proses yang saling berhubungan dan membuat kita dapat mengetahui apa yang terjadi pada dunia dalam tubuh kita dan dunia yang ada di luar kulit kita.
Pertama, sensasi (sensation) adalah deteksi energi fisik yang dihasilkan atau dipantulkan oleh benda-benda fisik. Sel-sel tubuh yang mendeteksi ini terletak pada organ inderawi yaitu mata, telinga, hidung, kulit, dan jaringan internal tubuh. Proses penginderaan tersebut menyadarkan kita akan adanya suara, warna, bentuk, dan elemen kesadaran lainnya. Selanjutnya, untuk membuat dunia yang mendera indera kita menjadi sesuatu yang masuk akal, kita juga perlu melakukan persepsi, (perception) yaitu sekumpulan tindakan mental yang mengatur impuls-impuls sensorik menjadi suatu pola yang bermakna. Indera pengelihatan kita menghasilkan gambar dua dimensi pada bagian belakang mata, tetapi kita mempersepsikan dunia dalam tiga bentuk dimensi. Indera pendengaran kita mengirimkan nada C, atau E, atau G yang dimainkan bersamaan diatas sebuah piano, tetapi kemudian kita mempersepsikan kunci C mayor dan bukan lagi nada-nada yang terpisah. Terkadang, sebuah gambaran sensorik dapat menghasilkan persepsi yang berbeda-beda, seperti yang diilustrasikan diatas.

            Sensasi dan persepsi merupakan dasar belajar, berpikir, bertindak, dan penemuan proses-proses ini sering kali ditempatkan dalam penggunaan praktis, seperti dalam perancangan alat bantu dengar dan robot industri, juga dalam pelatihan pengedali penerbangan, astronot dan orang lain yang harus membuat keputusan penting berdasarkan apa yang mereka rasakan dan persepsikan. Sebuah pemahaman mengenai sensasi dan persepsi dapat juga membantu kita berpikir lebih kritis mengenai pengalaman kita sendiri, karena meskipun proses ini biasanya akurat, kadang-kadang proses ini juga bisa tidak akurat.

Jumat, 04 November 2011

orang biasa

"Ada suatu kehormatan sederhana dalam kemiskinan.

selera teh terbaik yang lezat apakah itu berasal dalam panci porselen atau cangkir kaleng,

Minum teh dengan orang asing adalah salah satu kesenangan hidup sejati" -iroh, the legend of aang-

gak ngerti kenapa pingin nulis ya tentang kata-kata paman iroh. pelajaran hidup emang banyak sekali di ajarkan oleh tokoh yang satu ini. :D

itu beberapa kata favorit yang selalu bisa bikin aku menghargai hidup dari hal-hal yang kecil dan sepele, tanpa berharap sesuatu yang besar. dan tentu menyukai apa yang ada jauh lebih menyenangkan daripada memimpikan hal yang gak ada.

beberapa orang bilang bahwa harapan adalah sebuah penguat, beberapa bilang harapan adalah sebuah tipuan. yang mana kita akan dibuat tidak tenang ketika hal itu belum tercapai. apalagi ketika kita tidak bergerak.

dan memang ada sebuah kesenangan dalam sebuah kesederhanaan, dan tentu diri kita lah sumber kesenangan yang paling utama. oke cukuplah.

dan terakhir "ada kalanya pria butuh istirahat"-iroh-

cuaca yang cerah

Huuu, cuaca kok gak pernah cerah ya??. Hujan terus-terusan, klo nggak ya mendung.

Waduh mana sih matahari dan langit biru ini, kangen cuy.

Gimana bisa ceria klo alam gak ceria gini, apa kalian marah ya??

Klo kata ilmuwan gara2 pemanasan global kalian jadi gini. Waduh sori ya..!?

Memang begini sifat umat manusia, selalu lupa segalanya klo sudah dapat kenyamanan. Semoga kalian mengerti. Dan semoga kalian tetap mau brdampingan dengan kami.

Saya tunggu ya hari yang cerah, langit yg biru dan angin sepoi-sepoi. Karena saat itu saya ingin bermain sepuas-puasnya. Hahaha..

Minggu, 22 Mei 2011

Tugas filsafat manusia

Manusia, Sempurna atau Tidak

Banyak wacana yang menerangkan manusia sebagai sebuah makhluk yang sempurna. Namun ada banyak juga wacana menerangkan bahwa tiada manusia yang sempurna dalam beberapa kasus. Hal ini tentu saja sangat menarik untuk dibahas, mengingat bagaimana sebenarnya eksistensi manusia ini sebenarnya. Menariknya sebuah makhluk yang dinamakan manusia, beserta keunikan-keunikannya.

Manusia sebagai salah satu makhluk di bumi ini tentu tak banyak berbeda dengan berbagai makhluk yang ada. Memiliki fisik dan juga bernyawa serta memiliki hasrat untuk tetap bertahan hidup. Namun sebagai manusia sering kali kita menganggap bahwa manusia memiliki derajat yang lebih dengan makhluk-makhluk yang lain. Padahal hal itu hanya menurut penilaian manusia itu sendiri. Dengan demikian apakah hal itu dapat dibenarkan, ataukan memang seharusnya begitu.

Manusia menganggap dirinya sempurna karena memiliki banyak kelebihan dibanding dengan makhluk lainnya yang hidup di muka bumi. Ditambah dengan berbagai wahyu “Tuhan” yang mengatakan manusia adalah wakil-Nya di bumi serta merupakan pemimpin untuk makhluk yang berada di muka bumi. Bahkan menurut seorang penulis literatur sufi dan penerus tradisi Maulawi Jalaludin Rumi bahwa sifat manusia sempurna adalah refleksi dari sifat-sifat Tuhan.

Berbicara diluar konteks ketuhanan, manusia menerangkan bahwa dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh makhluk lain serta menganggap hal itu merupakan pembeda manusia dan makhluk lainnya. Yaitu sebuah akal dan kesadaran, sesuatu yang tidak nyata namun dapat dibuktikan. Dalam hal ini manusia menganggap lebih unggul di banding dengan makhluk yang lainnya. Misalnya, dengan memilki akal dan kesadaran manusia dapat menciptakan suatu kebudayaan yang mencerminkan bagaimana bentuk kehidupannya. Tidak seperti makhluk lainnya yang hanya sekedar hidup, hanya untuk bartahan hidup dan tidak tahu untuk apa mereka ada. Manusia yang memiliki kelebihan tentu akan menerangkan bahwa dirinya lebih sempurna dibanding dengan yang lain. Manusia tidaklah berlebihan dengan pernyataan itu. Karena dapat dilihat bagaimana kemajuan kebudayaan manusia pada saat ini. Berbagai kekurangan manusia dapat ditutupi dengan berbagai bentuk hasil karya yang dapat mereka ciptakan dengan akal dan pikirannya. Hal itu tentu sangat berbeda dengan makhluk yang lainnya. Yang hanya bisa sekedarnya tentang kehidupannya.

Sebuah pertanyaan, apakah hal ini benar? Atau sebenarnya hanya sebuah hal yang di lebih-lebihkan agar sesuatu dapat dibuat menurut imajinasi manusia itu sendiri.

Disamping semua kelebihan tersebut, ternyata banyak hal-hal yang merupakan kelemahan manusia itu sendiri. Sebuah bentuk dari sifat-sifat yang sama sekali tidak menunjukkan sebuah bentuk dari sebuah kesempurnaan. Bahkan terkadang manusia itu sendiri mengatakan bahwa dirinya tidak ada yang sempurna. Sebuah pertanyaan yang menarik, bagaimana seorang manusia yang menyatakan dirinya sebagai makhluk yang sempurna tapi disisi lain mereka menyebut dirinya sendiri tidak ada yang sempurna.

Memang saat menyebut dirinya tidak sempurna, mereka tidak membandingkan dirinya dengan makhluk lainnya. Tetapi mereka membandingkan dirinya dengan sesamanya. Namun kenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa manusia merasa tidak sempurna terhadap sesama. Apakah malah sebenarnya manusia itu memang tidak sempurna? Kalau memang begitu sebenarnya sangat tidak pantas kita mengatakan diri kita makhluk yang unggul. Banyak hal yang menunjukkan sebuah kebohongan yang secara tidak langsung mencerminkan betapa “cacatnya” manusia itu sendiri. Cacat dalam berbagai sisinya, dan berbagai hal dalam diri manusia.

Beberapa kelakuan manusia bahkan lebih mirip di katakan sebagai sebuah kelakuan hewan daripada menunjukan bahwa hal tersebut sebagai perbuatan manusia. Sering kali kita tak sadar akan hal itu, bisa jadi bahwa sebuah pengertian tentang manusia sebagai makhluk yang sempurna itu sebenarnya hanya sebuah kebohongan. Sebuah bentuk imajinasi manusia itu sendiri. Atau memang tidak ada pembanding untuk manusia sebagai makhluk yang sempurna. Karena jika dibanding sesama manusia saja mereka sudah tidak sempurna sama sekali, banyak sekali hal yang mencerminkan “kecacatan” diri mereka sendiri.

Selanjutnya, bagaimana sebenarnya manusia? Bagaimana kita agar disebut sebagai manusia? Menurut saya, disinilah keunikan manusia. Sebagai sebuah makhluk yang sebenarnya tidak sempurna sama sekali, tapi di dalam diri manusia terdapat suatu potensi yang dapat membuat diri mereka menjadi makhluk yang sempurna. Hal ini tergantung bagaimana manusia menggunakan potensi tersebut, yaitu akal dan kesadaran. Suatu kelebihan yang dapat mengantarkan kepada sebuah kesempurnaan manusia tetapi juga dapat menjadi sebuah potensi kecacatan manusia itu sendiri.

Sesuatu keunikan memang, bagaimana rumitnya manusia itu. Sebuah bentuk makhluk yang dapat mempelajari bagaimana dirinya sendiri. Misteri yang ada dalam dirinya yang sulit terungkap atau malah tak akan pernah terungkap karena memang begitulah seharusnya. Hal itu memang tak bisa disalahkan mengingat misteri manusia jika tereungkap akan malah merusak hakikat manusia itu sendiri.